Karya Tulis

Ibuisme Kartini dan Sastra

KARTINI seorang perempuan jawa bersenjata sastra. Perempuan yang doyan membaca pelbagai buku sastra layak kita kenal sebagai (perempuan) Revolusioner gerakan wanita pribumi terhadap dunia pendidikan kaum perempuan. Sastra menjadi senjata perlawanan kartini terhadap tradisi adat jawa (pingitan) pada masa kolonialisme. Kita bisa simak  dalam buku berjudul Panggil Aku Kartini Saja (2015) garapan Pramoedya Ananta  Toer telah memberikan representasi kartini seorang pembaca sastra. sastra yang ia baca berjudul Max Havelaar, Couperus (Louis Marie Anne), Eline Vere, Een Haagsche Roman, Nootloot, Extaze, Eene Illuzie, dan Majesteit. Jiwa serta raga yang dikurung agaknya membuat kartini sadar untuk terus membaca sebagai rasa perlawanan terhadap masyarakat pribumi yang masih kolot dalam menjunjung tradisi adat. Sastra nampaknya menjadi karib kartini dalam menuangkan kesedihan dan rasa ketidak adilan masyarakat jawa pada abad ke-18 dalam dunia pendidikan bagi kaum perempuan. Pemikirannya melalui sastra ia torehkan melalui surat-surat yang ia tulis pada sahabatnya Zeehandelaar (1900) dalam menandakan duka  perempuan jawa yang harus rela di pinang dan tak boleh bersekolah.

Kegemaran Kartini terhadap buku sastra nampaknya yang kini tak disadari menjadi warisan intelektual terhadap perempuan masa kini. Kita bisa menduga kartini hanya terkenang dengan sebutan penggagas “Emansipasi Wanita Bangsa” atas usaha memerdekakan perempuan pribumi. Ingatan terhadap kartini selalu diperingati pada 21 April  atas kelahirannya namun sering tak logis dalam mengingat jasa serta usahannya. Tribun jateng (20 April 2017) memberikan informasi “Kartini menjadi inspirasi di Belanda”. Keturunan R.A. Kartini memperingati hari Kartini memalui jamuan makan malam bersama Bupati-wakil bupati Rembang, Abdul Hafidz, Bayu Andriyanto, Michael (Duta Besar Belanda), Khofifah Indar Parawangsa (Menteri Sosial)  di Gedung Kartini Rembang. Mereka memeriahkan hari kartini melalui jamuan makanan yang penuh kenikmatan. Tak hanya itu, para politikus berambisi menghidupkan kartini kembali melalui pagelaran kesenian tari, meminta pihak keluarga untuk memberikan barang-barang peninggalan kartini untuk sumbangkan ke museum Kartini di Rembang.

Peringatan kartini kini sungguh melulu memberikan bernuansa kemegahan. Hidup dengan kesederhanaan dengan dilanda kesedihan hanya berbekal buku yang dialami kartini tak membuat paham para kartini-kartini abad ke-21.  Acara demi acara sebagai peringatan kartini nampaknya belum menjadi gagasan intelektualitas untuk lekas mengulangi kegiatan kartini kembali untuk berbuku. Pengetahuan orang terhadap kartini sebatas perempuan paling ampuh yang mampu menumbangkan tradisi (pingitan) masyarakat peribumi bagi perempuan untuk kembali bersekolah. Berbuku yang ditulis kartini melalui kumpulan surat-surat R.A Kartini berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang (1992) garapan Armijn Pane mengingatkan kita  keresahan serta kesedihan yang pernah kartini alami atas bangsannya. Kita patut mendengarkan dari nukilan tulisan kartini ;

“Harapan, tinggal Harapan! Pedih rasa Hatiku, Mengenangkannya lagi. Kami di sini tiada memperkatakannya lagi, tetapi diam tanda mengia, belum tanda mengalah; kami sudah sampai sejauh itu; akan melepaskan semuanya kami tidak suka, dan sekali-kali tiada niat kami hendah membuangkannya, tak pernah berniat yang demikian itu” (halaman, 62)

 Ketakutan kartini atas bangsanya  ia lampiaskan melalui tulisan yang mampu menjadi ingatan kita bersama. agaknya pesan kartini melalui buku untuk menumbuhkan perempuan cerdas telah lapuk tertelah keadaan zaman modern. Mengingat kartini telah menggebu sebagai acara yang fenomenal yang harus berorientasi pada peran-peran perempuan. Kita bisa menduga saja, peringatan kartini  akan ada adegan ambisius yang tak logis dalam pelbagai acara yang mampu kita ketahui seperti; berhijab ala kartini, berpakaian kebaya, adu memasak, bahkan acara mendaki gunung sebagai perjuangan mengingat kartini. Peringatan kartini nampaknya menjadi acara penuh kesakralan melalui adegan peran kerja perempuan terkini. Lantaran kehebohan serta kemashuran untuk mengingat hari kartini  Kita lupa akan pesan kartini untuk terus membaca serta menulis sebagai kegiatan kerja intelektual sebelum tubuh ini menghilang.(*)

M. Taufik Kustiawan

Hukum Pidana Islam

IAIN SURAKARTA

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s