Uncategorized

Mengulang Demonstrasi

demonstrasi

 

Lahirnya bangsa Indonesia tak lepas dengan aksi demonstrasi. Sejak tahun 1908 lahirnya gerakan Budi Utomo menentang kolonialisme sampai pada tahun 1998 runtuhnya orde baru, gerakan mahasiswa tetap nekat berdemonstrasi menuntut perubahan sosial demi kemajuan bangsa. perlawanan gerakan mahasiswa dahulu ditunjukan melalui demonstrasi demi tuntutan dan tujuan menyuarakan rakyat tertindas kala kebijakan pemerintah tak berpihak terhadap rakyat. Sejak itu demonstrasi menjadi cara yang ampuh untuk melawan bahkan melengserkan kekuasaan para penguasa.

Demonstrasi tak semestinya diartikan sebagai tindakan yang sia-sia, yang belum tentu melalukan tindakan anarkisme, radikalisme hingga membuat kemacetan. Namun para demonstran (mahasiswa) mencoba menjaga idealisme dan sikap kepedulian sosial dengan cara berpendapat dimuka umum seraya melawan kebijakan penguasa yang bertentangan dengan nasib rakyat. Hal itu yang diingat Angel pemilik warung kelontong di jalan Mozes Gatotkaca, Yogyakarta. Pada 8 Mei 1998, ia melihat mahasiswa bernama Mozes Gatotkaca seorang mahasiswa Sanata Dharma, tewas di tengah bentrokan antara mahasiswa dengan aparatur yang ingin membubarkan unjuk rasa. Pada waktu itu jalan tersebut masih bernama kolombo. Angel menceritakan suasana begitu mencekam, ia mendengar teriakan dan tembakan bertubi-tubi. Pasca unjuk rasa itu jalan tersebut diubah dengan nama Mozes Gatotkaca sebagai ingatan akan perjuangan mahasiswa dalam melawan penguasa yang begitu otoriter. Kisah demonstrasi Mozes akan selalu dikenang tatkala teringat nama jalan tersebut. Perjuangannya sebagai seseorang yang peduli dengan nasib rakyat akan terus terkenang. Kini jalan Mozes Gatotkaca yang panjangnya kurang dari 500 meter dikenal sebagai pusat jual-beli gawai (Kompas, 8 Juni 2017).

Opini yang ditulis Agnes Theodora yang berjudul Simpang jalan gerakan mahasiswa (Kompas, 8 juni 2017) menunjukan gerakan mahasiswa kini, tak seperti dahulu yang begitu memukau penuh keberanian. Semangat gerakan mahasiswa belakangan ini terasa begitu meredup, tertutup apatisme dan pragmatisme. Para pemuda (mahasiswa) yang kini disebut generasi millennials lebih mengedepankan kehidupan diri sendiri daripada mengurusi atau memikirkan kondisi sosial masyarakat. Peran mahasiswa tak begitu terasa bila tanpa demonstrasi yang dulu mampu menggerakan politik pemuda. Demontrasi yang mampu menyuarakan suara rakyat dikala peran mahasiswa benar-benar dibutuhkan. Mahasiswa berdemonstrasi menjadi penting untuk terus dijalankan ditengah peliknya tantangan kehidupan bersama.

Gerakan revolusioner

Pada abad ke-XX demonstrasi ditunjukan oleh Muhammad Imaduddin bin Abdulrahim dengan panggilan akrab (Bang Imad) sebagai gerakan dakwah di kampus. Pada tahun 1953 Bang Imad resmi diterima sebagai salah satu mahasiswa ITB. Lahir dan dibesarkan dari keluarga yang taat beragama membuat Bang Imad menekuni gerakan dakwah ketika bergabung di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Melalui HMI dan kajian forum diskusi, Bang Imad menyalurkan pemikirannya tentang wacana keislaman terhadap para mahasiswa melalui khotbah-khotbah (dakwah) di masjid salman ITB. pemikirannya yang luas dan lebih mengedepankan rasionalitas membuatnya dalam berkhotbah memahami seluk-beluk agama menjadi luas serta relevan terhadap tuntutan kondisi zaman. Para mahasiswa kala itu, gemar mendengar khotbah oleh Bang Imad yang begitu memukau di dengar oleh hati dan telinga.

Berdirinya masjid salman ITB juga tak lepas dari tangan-tangan mahasiswa. Pada tahun 1958 Prof. Tubagus Sulaiman membentuk panitia pendirian masjid Salman ITB. Bang Imad beserta mahasiswa aktivis Dewan Mahasiswa (Dema) turut membantu sebagai panitia pendirian masjid salman. Namun kendala biaya membuat pendirian masjid salman terhenti cukup lama. Tubagus Sulaiman dan Bang Imad terus berpikir untuk lekas menyelesaikannya pembangunan masjid Salman ITB pada waktu itu. Ahmad Noe’man selaku pembuat desain masjid tersebut, pada tahun 1964 rupanya berinisiatif memamerkan gambar masjid salman ITB di pameran seni rupa yang turut di hadiri Bung karno kala itu. Melihat keunikan pada gambar masjid salman ITB yang kubahnya menghadap ke atas, dan setelah mengetahui alasannya, Bung karno turut menyumbang 1000 sak semen lewat Chaerul Shaleh sebagai Menteri Perindustrian.

Mendengar isu rencana pembuatan masjid salman, tampaknya membuat Rektor ITB kala itu Otong Kosasih menolak lantaran halaman ITB rencananya akan dibuat kantor afiliasi. Penolakan sang rektor ditanggapi oleh Bang Imad beserta mahasiswa selaku panitia pembangunan masjid salman ITB. Mereka melakukan orasi demonstrasi yang tidak sampai berujung tindakan anarkisme yang terjadi di kampus ITB. Seusai berdemonstrasi mereka bernegosiasi untuk mengerti alasan Otong Kosasih menolak pembangunan masjid salman ITB yang nantinya berdampak besar bagi perubahan gerakan intekektual di kampus ITB. Ketakutan Otong Kosasih kala itu didengar oleh Bang Imad beserta para mahasiswa. ia takut apabila mahasiswa yang beragama lain menuntut dibuatkan rumah ibadah yang sama. Dan tak hanya itu, ia juga takut tatkala menyebut PKI yang menghendaki tanah tersebut. Bang Imad dengan tegasnya tanpa rasa takut, mengatakan PKI tak berhak atas tanah karena negara ini bertuhan, sementara mereka tidak bertuhan.

Gagasan pemikirannya serta keberanian Bang Imad membuatnya di angkat sebagai asisten Tubagus Sulaiman. Dengan kecerdasannya ia memperoleh beasiswa pada tahun 1963 untuk melanjutkan studi S2 di lowa State University, Ames, lowa, Amerika Serikat. Pada tahun 1965 ia lulus dan pindah untuk menyelesaikan S3 di Chicago. Tahun 1966, ia kembali untuk mengajar di kampus ITB tatkala prahara peristiwa Gestapu PKI yang melibatkan sebagian dosen pengajar di ITB.

Bang Imad terkenal sebagai salah satu aktivis terkemuka yang memiliki riwayat intelektual dan mampu mengerakan politik pemuda sebagai gagasan revolusioner di kampus. Dengan aktivitas dakwahnya di masjid salman ITB, Bang Imad dikenal sebagai figur mubalig yang andal. Ceramah-cerahmanya begitu memukau karena disamping bernas dan bermutu. Ia seringkali melontarkan kritikan keras terhadap seseorang maupun pemerintah ketika di atas mimbar khotbah. Kritikan seringkali mempersoalkan kebijakan pemerintah yang ia anggap tak berpihak dengan nasib rakyat. Ceramahnya kini bisa kita temukan dan terangkum dalam buku Kuliah Tauhid yang di susun oleh para sahabat-sahabatnya ketika masih memberikan khotbah di masjid salman ITB. Tak hanya buku Kuliah Tauhid saja, melalui gerakan pemikiran mahasiswa yang berdiskusi di masjid salman ITB para mahasiswa mencetak buku-buku keislaman atas nama penerbit “Pustaka”. buku-buku keislaman tersebutlah yang menjadi sumbangsih keilmuan terhadap bangsa Indonesia sebagai bacaan bermutu bagi mahasiswa ITB. Meski kampus berbasis keilmuan teknik, namun melalui gerakan dakwah yang di pimpin Bang Imad memberikan keberhasilan sebagai gerakan intelektual. Demonstrasi yang menciptakan gerakan pembaharuan terhadap lingkungan akademik patut kita tiru sebagai pedoman dalam menggagas keilmuan dikampus (Bang Imad, Pemikiran dan Gerakan Dakwahnya: 2002).

Gerakan mahasiswa berdemonstrasi bertubi-tubi melahirkan perubahan sosial secara komunal meski harus melawan kebijakan penguasa. Sebagai mahasiswa, kita patut berkaca terhadap kisah Bang Imad dan Mozes Gatotkaca sebagai para seorang demonstran. Kisah yang begitu heroik patut kita kenang dalam hati serta ingatan. Maka bila kini para mahasiswa rindu kemenangan tetaplah untuk nekat turun kejalan demi kemenangan.(*)

 

Riwayat penulis : M Taufik Kustiawan, Redaktur Buletin AL-Jinai’y Hukum Pidana Islam  IAIN Surakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s