Karya Tulis

Sirup dan Ramadan

          sirup 2

 

Menyambut bulan Ramadan, kita akan disuguhi pelbagai iklan sirup di televisi sebagai menu “kemenangan”. Iklan sirup hadir untuk menunjukan budaya umat muslim Indonesia dalam mengkonsumsi sirup saat bulan ramadan telah tiba. Kesegaran berbuka puasa dengan sirup tampaknya menjadi menu minuman wajib keluarga. Berbuka puasa terasa tak afdhol bila belum dibuktikan dengan menyeruput sirup bersama sanak keluarga.

Kita bisa lihat beberapa iklan di televisi seperti kehadiran iklan sirup ABC tahun 1998-2002. Iklan tersebut disertai dengan lirik lagu, berbunyi: Saat ceria, saatnya pulang bersama/ berbagi segarnya dan ceria bersama/ pulang bersama berbagi ceria/ segarnya sirup ABC/ sirup ABC/. Lagu mengambarkan kesegaran sirup ABC dan keluarga pada saat berbuka puasa serta menjelang mudik lebaran. Kakek-nenek, paman beserta istri menyambut sanak saudara dengan Sirup ABC yang melulu dihidangkan di meja makan sebagai jamuan. Kebersamaan keluarga begitu terasa menjelang detik-detik berbuka puasa tatkala seruan takbir menggema untuk lekas menyeruput sirup ABC secara bersama. Peran sirup mampu melekatkan keharmonisan keluarga serta terasa menambah ke khusyukan saat menjalankan ibadah puasa.

Iklan sirup sering tampil lewat televisi, poster belanja, bermisi demi terbeli. Iklan sirup sering membuat mata kita sumringah. Godaan iklan melulu memperlihatkan menu kenikmatan dan kesegaran. Godaan seringkali muncul melalui gambar serta gaya bahasa. Pemutaran iklan menimbulkan lirikan mata, imajinasi kesegaran yang harus segera dinikmati. Iklan begitu berbakat menunjukan kepiawaiannya dalam memikat hati umat muslim untuk mengkonsumsi sirup sebagai kebiasaan untuk dinikmati menjelang bulan ramadan.

Kita bisa melihat adegan iklan sirup marjan di televisi dengan bunyi iklan “manisnya marjan manisnya kemenangan”. Iklan itu dibintangi seorang perempuan sebagai pemain pengganti, saat kekakalahan point bermain bola. kehadiran perempuan memasuki lapangan membuat perubahan begitu besar. Perempuan menunjukan aksinya melalui sirup marjan untuk lekas menunjukan kemenangan. Melalui aksi heroiknya perempuan itu bersaing dengan laki-laki meski mendapat ledekan. Perempuan tak mau kalah, saat ia terlanjur mengkonsumsi sirup marjan yang menjanjikan kemenangan.

Kemenangan sirup juga begitu terasa dalam ingatan. Sirup menjadi hadiah dari ibu untuk melatih anaknya berpuasa ketika masih bocah. Menjelang berbuka, ibu menyiapkan pelbagai hidangan terutama sirup bercampur buah sebagai kegemaran sang anak. Anak pun semakin menikmati sirup yang tak bisa dirasakan dibulan biasa. Sirup menjadi acuan semangat anak untuk berpuasa!.

Kehadiran bulan ramadan tak bisa dilewatkan dengan sirup. Bulan yang menjadi penuh ujian serta tantangan dalam menjaga hawa nafsu semestinya mampu bersikap sederhana bagi para pelaksananya. Terutama kesederhanaan untuk makan dan minum yang harus diperhatikan tatkala berbuka puasa. Seringkali kehadiran sirup bercampur buah-buahan, kolak, es teh, teh anget dan air putih menjadi menu berbuka yang harus berhidangkan untuk mengobati rasa dahaga. Menyiapkan pelbagai menu makanan serta minuman sudah lazim menjadi kebiasaan keluarga untuk memanjakan lidah ketika menahan makan minum seharian.

Hasbi Ash Shiddieqy menulis buku berjudul AL ISLAM II (1952) dalam bab adab-adab berpuasa menjelaskan faedah adab tatkala berpuasa. Salah satu faedah tersebut ialah mengurangi makan dan minum secara berlebihan. Kita bisa melihat kebanyakan kaum muslimin menyediakan makanan-makanan dibulan puasa sungguh jauh benar bedanya dari bulan-bulan yang lain. Dibulan puasa mereka mengumpulkan pelbagai rupa makanan. Makanan-makanan yang terkadang tak pernah sebulan sekali mereka memakannya dibulan yang lain-lain, saban petang mereka menyediakan dibulan puasa.

Sungguh ajaib, kalau kita memandang pada umat muslim yang berpuasa dibulan ramadan. Mereka terasa rakus lantaran menyambut berbuka yang seringkali mempersiapkan pelbagai makanan seperti korma, minyak sapi, susu dan sirup (halaman. 156). Dengan demikian, puasanya bukan menjadi pisau untuk pemotong hawa nafsu atau alat mematahkan syahwat, malah menjadi penambah bergeloranya nafsu dan keinginan-keinginan syahwat perut untuk terus mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Hal tersebut yang menjadikan umat islam nantinya sulit bangun dari tempat duduknya untuk menunaikan ibadah sholat, lantaran perut sangat ditekan keras oleh kepadatan makanan serta minuman. Terkadang bila terlanjur kepenuhan isi perut, dengan aneka macam makanan beserta minuman, memaksa kita untuk lanjut tidur hingga jauh malam tanpa lekas beribadah secara maksimal.

Kedatangan bulan suci ramadan semestinya mengingatkan kita untuk senantiasa menunaikan ibadah rutinitas sholat tarawih, tadaruzan, dan silaturahmi pada sanak saudara. Dibulan inilah kita percaya akan pelimpahan pintu maaf serta ganjaran yang terus mengalir dari setiap hamba yang mendekatkan diri kepada-Nya. Bulan yang jarang kita jumpai semestinya dapat meningkatkan iman serta takwa terhadap sang pencipta. takwa serta iman kita bukan diukur dari seberapa jauh kita dapat menghidangkan pelbagai makanan serta minuman, namun dapat kita ukur dari apa yang telah kita kerjakan kepada-Nya dibulan suci ramadan.

Budaya Sirup

Namun mengkonsumsi sirup tak terasa menunjukan kehidupan yang berlebihan oleh umat muslim di Indonesia. Hal itu bisa kita buktikan tatkala melihat penjualan sirup di supermarket maupun di toko-toko. Sirup akan menampilkan kelezatan untuk terus terkonsumsi secara massal. Tak hanya itu, untuk menunjukan kesuksesan sirup, Seringkali prodak sirup juga menjanjikan pelbagai hadiah-hadiah menjelang lebaran bagi para penyuka. Menjelang hari raya, sirup menjadi bingkisan untuk di peruntukan sanak saudara, THR dalam kerja, dan hidangan kesegaran ketika lebaran. Sirup terasa simbol kemenangan umat islam dalam merayakan bulan ramadan dan lebaran. Budaya mengkonsumsi sirup begitu melekat menjadi kebiasaan umat muslim untuk diberlangsungkan setiap tahunnya.

Kita sulit membayangkan bila umat muslim tidak mengkonsumsi sirup dikala bulan ramadan telah tiba. Apakah masyarakat mampu melewati rasa dahaga tanpa sirup? tatkala sirup sudah terlanjur memberikan kita kenikmatan, kesegaran dan kemenangan yang kudu dikonsumsi. mengkonsumsi sirup terasa begitu wajib untuk menyegarkan kembali lahiriah dan batiniah umat muslim. Sirup terasa menjadi simbol kemenagan dalam melawan hawa nafsu saat berpuasa di bulan ramadan bagi para penyuka. Bulan yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia penuh rahmat, kemuliaan dan kebahagiaan adalah bulan untuk mengkonsumsi sirup sebagai kemenangan. waduh!!! (*)

 

Riwayat penulis : M Taufik Kustiawan, Redaktur Buletin AL-Jinai’y Hukum              Pidana Islam IAIN Surakarta

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s