Karya Tulis

Menggerakkan Lagi Politik Pemuda

Masa muda telah ia rangkum dan ia masukan

Ke dalam tas gendongnya, dua puluh kilogram beratnya.

Pagi-pagi sekali ia pamit kepada pacarnya:

“Aku akan pergih ke puncak Merapi

mencari batu kata paling murni.

Aku persembahkan padamu nanti.”

 

—Joko Punirbo, 2010

 

 

 

            Lahirnya Indonesia tak terlepaskan dari peran politik pemuda sebagai penggerak perubahan bangsa atas kesengsaraan dan kolonialisme Belanda. Rekam jejak pemuda bermisi pencerahan politik dan pemberdaya-kuatkan rakyat demi keadilan, kesejahteraan, dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemuda menjadi sekumpulan elite politik paling sakti dengan berbekal buku, tulisan, diskusi dan organisasi sebagai senjata perlawanan terhadap kolonialisme. Kita bisa melacak perlawanan pemuda pada awal abad ke-20 melalui organisasi bernama Budi Utomo yang didirikan Soetomo dan teman-temannya pada tanggal 20 Mei 1908. Langkah awal gerakan organisasi Budi Utomo dari sekumpulan mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) bergerak dalam bidang pendidikan. Mereka menghendaki pencerahan dan pemberdayaan rakyat melalui pembelajaran dengan mendirikan pelbagai sekolah rakyat. Pendidikan menjadi cara ampuh agar rakyat tidak menjadi manusia bodoh, sehingga  mampu berfikir untuk melawan kesengsaraan yang mereka alami dan menjadi manusia merdeka dan mandiri.

            Pergolakan pemuda Budi Utomo merangsang berdirinya organisasi-organisasi lain yang berorientasi penghabisan kesengsaraan bangsa Indonesia. Kita mengenal organisasi seperti Indische Vereniging, Jong java, Jong Sumatra, Jong Celebes,  dan seterusnya yang bergerak dalam bidang berbeda namun masih memiliki satu tujuan yaitu pemerdekaan rakyat Indonesia. Organisasi Indische Vereeniging merupakan sekumpulan pemuda (mahasiswa) yang belajar di Belanda. Saat Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) dan dr. Tjipto Mangunkusumo dibuang di Belanda, organisasi ini semakin radikal: Indonesia wajib merdeka secara politik. Disamping mereka cakap dan cerdas, mereka juga mampu melakukan perlawanan melalui pemikiran politik untuk menumbangkan penguasa kolonial pada masa itu. Mereka menerbitkan koran-koran radikal. Pemikiran politik menjadi ideologis baru yang mereka sebarkan terhadap pemuda bangsa untuk mencapai tujuan menjalankan massa aksi nasionalistik yang sadar dan bersandar kepercayaan pada kekuatan bersama untuk melawan dan menghentikan penjajahan Belanda. Pikiran-pikiran tentang persatuan rakyat, republik, demokrasi, pembentukan kekuatan, non-koperasi semuanya dianut oleh Indische Vereniging. Sejak tahun 1922 sampai pada tahun 1924 mereka mengubah nama organisasi menjadi “Perhimpunan Indonesia”. Inilah organisasi pemuda paling radikal pada masanya.

            Pergolakan pemuda radikal ditunjukkan Ahmad Subardjo, A. Maramis, Nazir Datuk Pamuntjak, Sukirman, dan Mohammad Hatta melalui organisasi Jong java, Jong Sumatra, Jong Celebes saat mereka ada di Indonesia. Organisasi ini sungguh mulai terarah dalam menyongsong kemerdekaan. Puncak kejayaan serta keberhasilan ditunjukan para organisasi pemuda Budi Utomo, Indische Vereniging, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes melalui kobaran semangat politik bahasa yang melahirkan prestasi pada tanggal 28 Oktober 1928 di Batavia: “Sumpah Pemuda”, dengan Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia (Yozar Anwar : 1981).

            Setelah tumbangnya kekuasaan Belanda, peran pemuda masih menggebu-gebu untuk melahirkan negara tanpa penjajah. Kita bisa melihat perjuangan pemuda lewat buku Revoloesi Pemoeda Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944–1946 garapan Benedict Anderson (1988). Ben Anderson mengulas perlawanan pemuda terhadap penjajahan Jepang pada tahun 1944-1946 yang begitu dramatis. Detik-detik proklamasi kemerdekaan tidak lepas dari perjuangan pemuda sebagai cita-cita dan impian bersama. Tentu pelbagai masalah untuk melahirkan “kemerdekaan” secara terus menerus selalu dirundingkan terhadap para penguasa.

            Pada  tanggal 7 Agustus 1945, kita membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang beranggotakan tokoh-tokoh pemuda dari pelbagai pulau-pulau Jawa dan luar Jawa yang sudah dipilih Penguasa Daerah atas dasar kemampuan, pengalaman, pengetahuan dan kebijaksanaan  yang mereka  miliki. Kita bisa sebut Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, B.P.H. Poerbojo, Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat, Soetardjo Kartohadikoesoemo, Andi Pangeran, I.G.K. Pudja, S.H, dr. Mohammad Amir, Otto Iskandardinata, R. Pandji Soeroso, B.K.P.A. Soerjohamidjojo, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kadir, dr. Soepomo, K.H. Wahid Hasjim, Teuku Mohammad Hassan, S.H., Dr. G.S.S.J Ratulangie, dan Drs. Yap Tjwan Bing. Keanggotaan PPKI lebih mendominasi kaum tua dan para politikus non-Islam yang dipercaya mampu menghantarkan Indonesia kepada kemerdekaan secara komunal. Namun pemuda bernama Sultan Sjahrir merasa dilematis ketika kemerdekaan selalu dirundingkan oleh para penguasa seperti Sukarno – Hatta dan Yamamoto – Nashimura sebagai pemimpin Jepang. Jepang selalu menjanjikan kemerdekaan terhadap Bangsa Indonesia dengan mengumbar memberi bantuan  berupa pengamanan dari sekutu serta penyerahan kekuasaan mutlak pasca proklamasi kemerdekaan. Peran Sjahrir sebagai pemuda berjiwa sosialis selalu memperingatkan terhadap Sukarno–Hatta bahwasannya kemerdekaan tak boleh dikotori dengan manipulasi politik kekuasaan. Sjahrir tak gentar memberikan pelbagai kritik pedas terhadap para politikus yang ia anggap memperburuk martabat bangsa.

             Sjahrir menulis buku berjudul Perdjoeangan Kita (1988) yang mengingatkan kita, betapa kerasnnya perjuangan rakyat kala kerja romusa (kerja paksa tak berupah) yang menyengsarakan rakyat. Tulisan itu mampu memberi kobaran api semangat terhadap para pemuda dalam melawan kesengsaraan. Tentu harapan  Sjahrir melibatkan peran pemuda sebagai ajakan perlawanan terhadap politikus (penguasa) yang menjadi budak serta mengabdikan dirinya terhadap pihak luar dengan harapan memperoleh keuntungan dari bangsa sendiri. Kesadaran menanamkan arti perjuangan untuk melahirkan negara demokrasi menjadi wujud cita-cita dalam pemikiran Sjahrir sebagai kaum intelektual.

        Gerakan para pemuda sudah tak tahan menunggu puncak proklamasi kemerdekaan sebagai bentuk kebebasan. Usaha-usaha melalui pelbagai perundingan Sukarno–Hatta tak kunjung menemui hasil yang diharapkan. Ketakutan para pemuda berimbas penculikan terhadap pemimpin bangsa, Sukarno – Hatta dengan melarikannya ke Rengasdengklok demi mengamankan para pemimpin pasca isu gejolak senjata militer terhadap sekutu. Para pemuda seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, dr. Muwardi, Jusuf Kunto, Singgih, dan dr. Sutjipto menjadi gerakan pemuda bawah tanah yang selalu melihat perkembangan situasi bangsa. keadaan selalu mereka rekam untuk memperoleh informasi berita terhadap sekutu maupun kekuasaan Jepang yang berpusat di Batavia. Suasana mulai memanas ketika terdengar berita, pasca pemuda ingin melakukan perlawanan secara mutakhir untuk meruntukkan kekuasaan Jepang kala itu. Namun Sukarno – Hatta tetap selalu bersikeras  melakukan perundingan sampai membuahkan hasil mumpuni bagi bangsa pada tanggal 17 Agustus 1945. Seruan “kemerdekaan Bangsa Indonesia” terdengar di seluruh Indonesia atas dukungan dari pelbagai golongan pemuda sebagai wujud revolusi politik.

            Teks proklamasi yang disusun Soekarno-Hatta menjadi teks politik radikal sebagai puncak kemenangan kaum muda. Suara Sukarno yang direkam setelah pembacaan resminya kemudian terdengar terus sampai sekarang:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Atas nama bangsa Indonesia,

Soekarno/Hatta. Hari 17 boelan 8 tahoen 45.”

            Upacara  penuh kesakralan dilaksanakan di pekaranngan rumah Sukarno dengan sederhana namun penuh airmata. Prokalamasi kemerdekaan itu turut dihadiri oleh pemuda untuk menyambut tanah air bebas akan penjajah. Peran pemuda turut menyiarkan proklamasi kemerdekaan melalui sistem telekomunikasi kantor berita Domei untuk mengabarkan berita kemerdekaan terhadap bangsa lain.  Siaran radio tak henti-henti menyuarakan “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” mulai pukul 7 sore sejak tanggal 17 Agustus itu. Perjuangan pemuda sebagai sang revolusioner telah mencatat sejarah memukau, penuh airmata serta darah yang mereka korbankan demi bangsa Indonesia. Maka kita sebagai pemuda bangsa semestinya menjaga tanah air, negara, serta bahasa Indonesia yang telah diwariskan melalui keringat serta tetesan darah yang terkandung dalam Sumpah Pemuda. Kita pantas mewarisi lagi politik radikal kaum pemuda nasionalis Indonesia. Maka, kita pantas mengucap dalam hati puisi Soe Hok-gie:

            Simpatiku adalah untuk mereka

            Yang telah mengorbankan segala-galannya

            Untuk kemerdekaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia,

            Mereka yang berada di sisi kiri dan sisi kanan ………

Riwayat Penulis : Muhamad Taufik Kustiawan, 142131005,                                       Hukum Pidana Islam,    Fak. Syariah, IAIN Surakarta (085 725 579 549)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s