Karya Tulis

Perjuangan Mazhab dan Kebebasan Akademik

Demo tanpa arah

 

Acara bedah buku berjudul Islam Tuhan Islam Manusia karya Haidar Bagir (2017) di IAIN Surakarta pada 9 Mei 2o17 menunjukkan dua hal penting: perjuangan mazhab tertentu dan kebebasan akademik. Dua dalih ini seakan bertarung di kampus. Suasana kampus terasa lebih mencekam.

Ketakutan saya begitu terasa, saat melihat 1300-an gabungan anggota polisi dan tentara bersiaga di depan gerbang kampus dan sekitarnya. Polisi dan tentara bersenjata lengkap bertugas mengamankan jalannya acara bedah buku di luar kampus mengingat ancaman dari Dewan Syariah Surakarta. Sekitar 200-an orang mendatangi kampus dengan ditandai seruan takbir. Mereka datang, berdemonstrasi, akhirnya nekat turun ke jalan.

Dewan Syariah Surakarta menolak, memprotes, dan mau membatalkan acara bedah buku, lantaran dalih Haidar merupakan pimpinan Syiah yang harus diwaspadai. Mereka mengecam memboikot dan membubarkan acara secara paksa dengan cara berdemonstrasi secara massal. Konon, 3000-an personil Ormas Dewan Syariah Surakarta siap turun ke jalan untuk membubarkan acara bila pihak panitia Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema IAIN Surakarta) beserta pihak kampus bersikeras menyelenggarakan acara tersebut.

Namun, muncul petisi-petisi dukungan yang tersebar sebagai wujud perlawanan atas nama kebebasan akademik. Petisi hadir dari Endy Saputro selaku dosen IAIN Surakarta. Dia mengatakan, “Memohon terhadap civitas akademis untuk memberi dukungan kepada Bapak Rektor beserta jajarannya agar tetap menyelenggarakan acara tersebut sesuai rencana. Karena kebebasan akademik adalah prasyarat pengembangan ilmu. Pengembangan ilmu adalah prasyarat kampus yang berkualitas.”

Hal senada juga disampaikan oleh M. Zainal Anwar melalui tulisan di rubrik gagasan berjudul Kebebasan Akademis yang dimuat Solopos (09 Mei 2017). Tulisannya yang bernada aktivis menyuarakan “perlawanan” demi kebebasan akademis sebagai ruang intelektual bagi para pengajar dan mahasiswa demi menggali keilmuan. Kampus merupakan ruang bertemunya pemikiran yang tak layak diintimidasi oleh siapa pun.

Dukungan pun hadir dari kampus UIN Walisongo Semarang dengan seruan: “Kampus merupakan lembaga pendidikan sebagai sarana dialog publik, tempat berdiskusi, menguji pemikiran secara kritis sebagai pengembangkan ilmu pengetahuan yang ditujukan untuk menciptakan kehidupan manusiawi dan beradab.”

Kini saya meyakini saja, barangkali 200-an orang yang telah turun ke jalan belum membaca isi buku Haidar. Kita bisa mengecek dari penjualan buku Islam Tuhan Islam Manusia di toko buku yang tidak sampai sekitar 200 eksemplar dan belum habis waktu acara berlangsung.

Kita layak berkaca dan jangan terlalu banyak tuduhan dengan sebutan Syiah pada Haidar Bagir. Tuduhan itu agaknya terlalu berlebihan, mengingat tak ada unsur pemahaman Syiah dalam isi buku. Sebenarnya buku itu berisi sekumpulan tulisan Haidar yang terpublikasi di koran maupun jurnal. Tulisan-tulisan itu mengenai persoalan pemahaman Islam di zaman kacau yang disebabkan oleh manusia sendiri. Manusia yang sering mempersoalkan Islam mengenai monopoli kebenaran, menyesatkan Islam lainnya yang tampaknya perlu diperhatikan. Ini tidak ada hubungannya dengan mazhab Syiah. Banyak orang yang menyuarakan hal yang sama.

Haidar memang seorang intelektual pemikir kajian teologis yang ingin menyampaikan konsep Islam ramah, Islam penuh cinta, dan Islam toleran sebagai tujuan persatukan umat. Persoalan kontemporer yang dihadapi umat Islam sekarang adalah takfirisme pada konsep mazhab tertentu yang terkadang memicu tindakan anarkisme.

Konflik sesama Islam sering terjadi lantaran terlalu fanatik dan takfirisme terhadap mazhab yang mereka (golongan Islam) anut. Tanpa hendak terlebih dahulu untuk saling memahami. Perbedaan cara pandang perihal menafsirkan teks Al-Quran dan Hadits yang membuat pemikiran keagamaan tak memiliki kesamaan sebenarnya wajar.

Namun, penafsiran oleh pelbagai golongan Islam sering kali tak memperhatikan konteks keadaan zaman sebagai pedoman. Kita bisa sebut paham Islam tektualis, Islam ini akan terus percaya menggunakan isi Al-Quran untuk menjawab problematika kontemporer yang terkadang tidak relevan. Paham Islam ini hanya bersandar pada teks saja, sehingga memahami Islam bisa dibilang konservatif.

Akibat yang ditimbulkan, Islam menjadi radikal, anarkis dan tak memiliki toleransi yang mumpuni tatkala perbedaan terjadi di antara mazhab Islam. Lain halnya bila kita memahami Islam secara kontekstual. Golongan ini memang lebih mengedepankan rasionalitas sebagai kebutuhan umat Islam dalam peradaban zaman modern.

Paham Islam kontekstual, tak hanya memahami Al-Quran dan Hadits, namun juga mengedepankan akal sehat sebagai pedoman alat untuk berijtihad. Memahami Islam dengan akal merupakan cara mutakhir memahami Islam sebagai pedoman ilmu beragama. Semestinya dari konsep kedua prinsip metode paham Islam inilah yang terus diperhatikan untuk mewujudkan Islam berperadaban di zaman modern.(*)

 

Penulis : M. Taufik Kustiawan, Kordinator Buletin Al-Jinai’y HMJ Hukum Pidana Islam

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s