Uncategorized

Pemikiran Hazairin Terhadap Hukum Islam

hazairin

 

Hazairin (1906-1975) ialah tokoh yang menginginkan hukum Islam diberlakukan di Indonesia. Sejak masa kolonialisme, ia terkenal sebagai tokoh yang begitu kolot menginginkan perubahan dalam sistem hukum Indonesia. Kegigihan Hazairin bisa dibuktikan tatkala pertentangannya dengan Snouck Hurgronje. Teori Snouck Hurgronje dianggap sebagai Teori Iblis yang begitu menyesatkan masyarakat Indonesia dan pantas ditinggalkan. Teori yang mengatakan hukum Islam tidak dapat berlaku apabila bertentangan dengan hukum adat harus dilawan dan dihapuskan. Menurut Hazairin, teori tersebut hanyalah usaha-usaha Snouck Hurgronje untuk memudarkan eksistensi hukum Islam di Indonesia, melemahkan kewenangan peradilan Agama, dan mengajak umat muslim tak mematuhi perintah Tuhan dan Sunnah Rasul-Nya. Maka keyakinan Hazairin terhadap hukum Islam lah yang nantinya mampu menjadi sistem hukum yang dapat memberikan keadilan serta kesejahteraan bagi masyarakat.

Pembelaan terhadap hukum Islam Hazairin buktikan melalui tulisannya yang berjudul Hendak Kemana Hukum Islam? (1963). Hazairin menjelaskan manfaat dan mengingatkan dasar pemberlakuan hukum pidana Islam dalam pelaksanaan Syari’at Islam di Indonesia. penerapan itu diatur dalam Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 di mana dinyatakan dalam Piagam Jakarta yang menjiwai dan merupakan rangkaian yang terpisahkan dengan UUD 1945. Tak hanya itu, dalam Piagam Jakarta, Soekarno mengumumkan pada tanggal 22 Juni 1945 menyuarakan negara ini berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban melalukan Syari’at Islam bagi pemeluknya (halaman 5).

Melalui dektit presiden dan Piagam Jakarta ini lah yang menjadikan landasan pemikiran Hazirin dalam mengembangkan hukum pidana islam terhadap hukum nasional. Meskipun negera Indonesia bukanlah negara Islam, namun kesadaran Hazairin melihat mayoritas masyarakat Indonesia muslim, maka hukum Islam perlu di kembangkan. Mengingat di tengah pelaksanaan hukum nasional tak begitu ditakuti, maka ia menganggap layak untuk mempertahankan serta mengembangkan hukum pidana Islam sebagai hukuman muthakir yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits.

Kritik Hazairin terhadap sistem hukum nasional yang berlaku di Indonesia begitu tajam dan relevan. Dalam bukunya yang berjudul Tujuh Serangkai Tentang Hukum (1981) Hazairin memberikan gagasan pemikiran untuk menciptakan Negara tanpa penjara dan pembentukan Mazhab Indonesia sebagai rumusan hukum Islam tatkala diberlakukan. Gagasan Hazairin memang begitu liberal dan masuk akal dalam memilih hukum Islam apabila diterapkan. Ditengah hiruk-pikuk persoalan yang terjadi di Indonesia, tampaknya penegakan hukum maupun sistem hukum nasional tak mampu membendung arus kejahatan maupun pelanggaran. Kita bisa lihat beberapa kasus yang terjadi belakangan ini, korupsi semakin merajalela, kejahatan pencurian, pembunuhan di mana-mana hingga penjara tak mampu menampungnya.

Berita di surat kabar (Kompas, 9 Mei 2017) memuat, ribuan tahanan rutan di Pekanbaru Riau kabur lantaran kekecewaan atas pelayanan rumah tahanan yang tak layak di tempati. Mereka memprotes atas kelebihan kapasitas penghuni lapas. Rumah tahanan yang hanya memiliki ruang 361 memaksa untuk dihuni 1.800 tahanan. Kurangnya pelayanan tersebut yang menyebabkan 448 tahanan akhirnya nekat melarikan diri secara berjamaah usai melaksanakan sholat jumat. Kejadian kaburnya ratusan tahanan tentu mengagetkan aparat penegak hukum sekaligus masyarakat. Kesadaran akan perlindungan, keamanan dan kesehatan memang tak tampak terlalu diperhatikan oleh pemerintah sebagai tanggungjawab. Kaburnya ratusan tahanan tersebut juga menunjukan bahwa kejahatan semakin meningkat dengan bukti padatnya rumah tahanan. kita dapat meduga, bahwa hukuman penjara memang bukan solusi dan hukuman yang mampu membuat jera bagi para pelaku kejahatan.

Kita patut merenungkan dan mempertimbangkan Pemikiran Hazairin dengan menelaah gagasan negara tanpa penjara. Di dalam penjara tentu para tahanan tak merasakan sebagai tempat yang membahagiakan ataupun tempat ketenangan jiwa. tempat yang menurut Hazairin hanya mengabiskan biaya materiil bagi pemerintahan mesti di revolusi. Meskipun gagasan tersebut terlalu mumpuni kita dapat memperhitungkan hasil dari penerapan hukum Islam dalam memberantas kejahatan. Orang akan berpikir kembali sebelum melaksanakan kejahatan lantaran hukuman akan dibalas sesuai perbuatan.

Dalam buku berjudul Asas-asas Hukum Pidana Islam (1967) yang ditulis A. Hanafi menjelaskan pembagian jarimah (hukuman) sesuai berat ringannya kejahatan yang diperbuat. Konsep jarimah Hudud (bersandar teks Al-Quran dan Hadits), Qisas (dibalas dengan perbuatan sama), Ta’zir (Hukuman yang diserahkan pada Hakim) merupakan konsep hukuman yang akan bermanfaat bagi sesama manusia dan manusia dengan Tuhan.

Namun konsep tersebut dapat terwujud apabila masyarakat mampu bersatu di tengah kerasnya perbedaan. Kesepakatan serta persatuan masyarakat sangat diperlukan dalam mendukung upaya pemberlakuan hukum Islam untuk menjadikan simbol kebersamaan dalam menegakkan keadilan. keterlibatan dari pelbagai organisasi masyarakat, ulama, cendikiawan, politikus, budayawan, dan sejarawan sangat diperlukan dalam merancang asas-asas hukum Islam di Indonesia. Perancangan tentu tak lepas dari konsep ushul fiqh dalam pembentukan Madzhab Indonesia. Madzhab yang mengerti kondisi sosio-kultural masyarakat Indonesia yang akan menciptakan prinsip persaudaraan, persamaan dan kebebasan akan mewujudkan pengembangan pemikiran yang dapat menyatukan antar golongan. Harapan dalam penyatuan masyarakat mampu membentuk masyarakat homogenitas dalam memberlakukan hukum Islam sebagai pedoman bersama.(*)

 

Riwayat Penulis : M Taufik Kustiawan, Kordinator Buletin Al-Jina’y Hmj Hukum Pidana Islam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s