Uncategorized

Membangun OPAK Berliterasi

 

baca-buku

 

Pada 24 Juli 2017, Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK) akan diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa (Dema) IAIN Surakarta dalam menyambut mahasiswa baru. Dema IAIN Surakarta Kabinet Nusantara merubah penamaan OPAK menjadi “Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan” (PBAK) supaya lebih tampak akademis dan bermutu bagi mahasiswa baru. Sekitar 3310 mahasiswa baru yang diterima IAIN Surakarta wajib untuk mengikuti serangkaian PBAK sebagai prasyarat awal sebelum memasuki dunia perkuliahan. Persyaratan tersebut berlanjut untuk memenuhi pengesahan sebagai warga kampus demi mendapat sertifikat PBAK dari panitia yang kelak dibutuhkan sebelum kelulusan.

Perubahan nama dari OPAK ke PBAK seakan menunjukan gagasan yang berbeda dari OPAK yang telah berjalan pada tahun-tahun lalu. OPAK seringkali diartikan sebagai kebiasaan perpeloncoan, ajang balas dendam senior hingga terkadang menyebabkan tindakan kekerasan. Seperti yang dirasakan Hanputro Widyono dalam buku berjudul Kampus Saja (2016). Hanputro mengisahkan kehidupannya saat menjadi mahasiswa baru di Universitas Sebelas Maret (UNS). Orentasi Pengenalan akademik kampus melulu mencekam hingga membuat takut sebagian mahasiswa baru yang mengikutinya. Gertakan serta ocehan menunjukan kemenangan senior terhadap junior lantaran terus mematuhi perintah tanpa melawan. Hanputro menceritakan kemenangan senior mengingat “senior selalu benar, junior selalu salah, dan jika senior salah, kembali keaturan awal”. Hal itu yang menunjukan mahasiswa baru selalu mendapat ocehan “mental tempe” yang sering terlontar dari senior tatkala mahasiswa baru mulai cengeng ataupun letih (halaman 8).

Tak hanya itu, pelaksanaan OPAK terus berambisi menuntut mahasiswa baru. Tuntutan itu berupa resitasi yang harus dipenuhi. Resitasi semestinya tidak melulu membawa benda-benda aneh yang tak mendukung kerja akademik. Resitasi semestinya menjadi cara pembaharuan dalam menunjang semangat serta minat mahasiswa dalam menggali keilmuan.

menumbuhkan Literasi

Berawal tahun 2016 Pengenalan OPAK ditunjukan oleh panitia Dema IAIN Surakarta Kabinet Nahkoda Pembangunan lewat kerja literasi. Mereka membuat buku pedoman OPAK berjudul BAPER akronim dari Barisan Pemikir (2016). Dalam “kata pengantar” menjelaskan; buku itu sebagai pedoman terhadap seluruh mahasiswa baru dengan harapan agar mahasiswa sadar memiliki tanggungjawab moral dan intelektual. Sebagai mahasiswa mereka dituntut untuk berpikir bebas demi kemajuan dalam pendidikan.

Kita bisa menduga bahwa itu upaya panitia dalam menyukseskan OPAK. Tentu harapan Dema IAIN Surakarta tahun 2016 selaku panitia mengajak mahasiswa baru agar gemar membaca dan menulis melalui buku BAPER. Buku tersebut sebagai doktrin awal mahasiswa baru agar menyukai kerja keaksaraan.

Pada tahun 2017, panitia Dema IAIN Surakarta Kabinet Nusantara tak mau kalah dalam pembuatan buku pedoman PBAK yang diperuntukan mahasiswa baru. Mereka menandingi dengan membuat buku berjudul Membumikan Nalar Kritis Mahasiswa (2017). Buku terkesan lebih menarik dari buku yang sebelumnya dari sampul dan judul. Dalam “kata pengantar” selaku ketua Huda Rahman Hakim menyampaikan pentingnya menuntut ilmu secara sungguh-sungguh. Huda berusaha mengajak mahasiswa baru untuk melihat kembali masa keemasan Islam dengan cara menulis. pada masa Umayyah dan Abbasiyah sekitar abad ke-VIII sampai XI khalifah Harun al-Rasyid, Al-Makmun gemar menerjemahkan pelbagai buku dari seluruh penjuru dunia. Ribuan buku telah lahir serta ratusan buku telah diterjemahkan demi kepentingan keilmuan. Maka pada masa itu begitu banyak muncul tokoh-tokoh Islam yang saat ini masih berpengaruh melalui buku yang mereka tulis sebagai sumbangan intelektual dari masa ke masa.

Mengenalkan masa keemasan Islam rupannya berlanjut ke PBAK untuk menulis sebagai resitasi. Mahasiswa baru dituntut membuat esai bertema “Membangun Budaya Kritis dan Anti Plagiat” sebagai prasyarat menjadi mahasiswa baru. Dari tulisan 3310 mahasiswa baru akan dipilih 100 karya terbaik untuk di bukukan sebagai gerakan literasi kampus. Tentu hal ini tak hanya melibatkan mahasiswa baru. Hampir seluruh civitas akademik, Rektor, dosen dan mahasiswa lama turut bergotong royong dalam penyusunan buku agar menjadi karya dalam bentuk dokumentatif.

Resitasi PBAK kini tak melulu berbentuk benda-benda aneh. Resitasi yang hanya menghabiskan uang dan sampah layak di tinggalkan. Pembaharuan untuk melahirkan budaya akademis dengan tuntutan menulis perlu dilestarikan mumpung mahasiswa baru masih terasa bersemangat. Meski kita menduga bahwa mahasiswa baru akan kesulitan menulis namun kita meyakini mahasiswa mampu melalukannya lantaran paksaan. Dari paksaan itu lah terkadang muncul gagasan pembaharuan dalam acara penyambutan mahasiswa baru yang lebih mendidik secara akademis di kampus.

Panitia Dema IAIN Surakarta Kabinet Nusantara dalam acara PBAK menunjukan gerakan literasi di kampus yang perlu di kembangkan. Tema dalam tulisan juga menunjukan betapa pentingnya menjadi mahasiswa bersikap jujur dan tanggungjawab moral serta intelektual. Meski menulis dan berbuku sudah menjadi kebiasaan tugas mahasiswa, namun kadang kala hanyalah berbentuk formalitas di kelas. Menjadi mahasiswa bukan hanya memenuhi kerja administrasi, tugas makalah dari dosen ataupun mahasiswa kampus, kos dan kantin namun juga mengerti akan pentingnya kerja keaksaraan. Kini PBAK seolah mengajarkan pentingnya menulis sebagai sarana pengembangan mutu pembelajaran dalam dunia akademisi bagi mahasiswa baru sebagai gerakan perubahan. (*)

Riwayat Penulis : M. Taufik Kustiawan, Koordinator Buletin Al-jina’y, HMJ Hukum Pidana Islam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s